Feature



Feature

Judul                 : Menyingkap Fenomena Alam Api Abadi Mrapen
Permasalahan  : Belum banyak yang mengetahui tentang asal usul Fenomena Alam pada Objek Wisata Api Abadi Mrapen
Tujuan               : 1. Mengungkap sejarah dari fenomena alam yang ada di Objek Wisata Api Abadi Mrapen.
2. Mengetahui objek-objek wisata yang ada di Mrapen serta keunikan-keunikan didalamnya.
3. Mengetahui sistem pengelolaan objek wisata dari awal pemerintahan Sultan Trenggono hingga sekarang.
4. Mengetahui peristiwa-peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di Mrapen.
Tokoh                : 1. Nimas                  : Pemeran.
                            2. Lia                       : Pemeran.
3. Pak Rubiatno     :Salah satu juru kunci Objek Wisata Api Abadi      Mrapen.
Setting               :  Tempat                  : Objek Wisata Api Abadi Mrapen.
                            Waktu                    : Pagi hari.
 Durasi               : 20 Menit.
Sinopsis
Ketika hendak berlibur ke Semarang, perjalanan dua orang kakak beradik yang bernama Nimas dan Lia, tiba-tiba terhenti di depan salah satu situs wisata yang konon katanya merupakan objek wisata bersejarah peninggalan Sunan Kalijaga. Objek wisata tersebut bernama Api Abadi Mrapen. Karena merasa penasaran akan objek wisata yang kini berada tepat di depan matanya, Nimas dan Lia memutuskan untuk singgah sejenak dan melihat fenomena alam yang ada pada objek wisata tersebut. Objek wisata tersebut terletak di komplek wisata alam Mrapen, tepatnya di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Berjarak sekitar 26 Km dari kota Purwodadi. Letaknya yang berada di tepian jalan menuju Purwodadi – Semarang membuat obyek wisata ini relatif mudah ditemukan.
Ketika memasuki gapura obyek wisata Api Abadi Mrapen, mereka berdua disuguhi dengan hamparan luas sawah yang menghijau di sepanjang jalan menuju lokasi. Sesampainya disana mereka berdua di kenakan biaya tiket masuk sebesar tiga ribu rupiah. Setelah itu, merekapun segera memarkirkan motornya di sebuah area terbuka yang cukup luas untuk menampung kendaraan roda dua maupun empat. Ketika turun dari motor tentu hal yang pertama kali dicari adalah dimana lokasi keberadaan api mrapen. Sekilas mata memandang tidak ditemukan sama sekali kobaran api di area tersebut, pada akhirnya mereka bertanya kepada seseorang. Mereka mencoba menghampiri seorang bapak-bapak yang bernama Rubiatno. Kebetulan beliau merupakan salah satu juru kunci objek wisata tersebut. Jadi mereka berdua akhirnya diajak berkeliling untuk melihat objek demi objek yang ada di tempat wisata tersebut.
Dalam perjalanannya Pak Rubiatno menceritakan sejarah objek wisata tersebut. Beliau bercerita bahwa objek wisata yang kini bernama Api Abdi Mrapen, merupakan peninggalan bersejarah dari Sunan Kalijaga. Beliau menuturkan bahwa dahulu tempat tersebut pernah dijadikan tempat peristirahatan Sunan Kalijaga beserta rombongannya saat melakukan perjalanan dan membawa benda-benda pusaka dari kerajaan Majapahit menuju ke Demak Bintoro pasca runtuhnya kerajaan Majapahit yang disebabkan karena serangan Prabu Girindrawardhana dari  Keling Kediri.
Ketika rombongan yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga merasa lapar dan haus, beberapa orang berusaha membuat masakan, namun karena bekal yang dibawa berupa bahan makanan yang masih mentah  dan tempat tersebut jauh dari pemukiman maka disitu tak ada api dan air bersih yang akan digunakan untuk memasak. Akhirnya Sunan Kalijaga dibantu beberapa orang sambil berdo’a kepada Allah SWT agar mendapatkan api dan air untuk memasak. Setelah selesai berdo’a Sunan Kalijaga berdiri sambil menancapkan tongkatnya ke tanah, dan ketika dicabut keluarlah api dari tanah tersebut. Kemudian Sunan Kalijaga berjalan agak ketimur beliau menancapkan tongkatnya lagi, ketika dicabut menyemburlah air yang sangat jernih. Kemudian dipakailah api dan air tadi untuk memasak.
Setelah beberapa saat melepas lelah, makan dan minum, maka diputuskanlah untuk melanjutkan perjalanan, namun Sunan Kalijaga memutuskan untuk meninggalkan salah satu barang bawaannya berupa “Umpak” tiang kerajaan Majapahit (landasan tiang) karena benda tersebut terlalu berat untuk dibawa. Benda tersebut sekarang disebut “Batu Bobot”. Menurut penuturan Pak Rubiatno ditempat ini dulunya juga pernah digunakan oleh salah satu pengikut Sunan Kalijaga yang bernama Empu Supo yang diutus untuk membuat keris di tempat tersebut. Api yang ada digunakan Empu Supo untuk membakar keris dan airnya digunakan untuk menyepuh keris, dan semenjak saat itu air yang semula jernih menjadi keruh kekuning-kuningan. Empu Supo dinikahkan dengan Dewi Rosowulan karena keberhasilannya dalam menemukan Dewi Rosowulan yang pergi dari rumah akibat mencari Sunan Kalijaga kakaknya yang diusir dari Kadipaten Tuban .
Setelah melakukan perbincangan yang cukup panjang, maka sampailah Nimas dan Lia pada suatu tempat yang ada setumpuk batu berwarna putih yang tersusun rapi membentuk kerucut. Pak Rubiatno mengatakan bahwa inilah yang dinamakan Api Alam (Api Abadi). Timbulnya api karena adanya gas yang keluar dari dalam tanah. Pusat semburan gas berdiameter kurang lebih 1,5 meter. Dinamakan api Abadi bukan berarti tidak pernah mati, melainkan Api tersebut “Diabadikan” sampai sekarang (dirawat). Gas yang keluar hanya melalui pori-pori tanah, tidak ada lubang besar (sumurnya). Api tersebut dulu memang besar, tetapi sejak tahun 1992 api tersebut semakin kecil.
Dari objek wisata Api Alam Nimas dan Lia beralih ke sebelah timur yaitu di sebuah sendang yang berisi genangan air yang dulunya merupakan hasil cabutan dari tongkat Sunan Kalijaga yang mengeluarkan air, letaknya kira-kira kurang lebih 25 meter disebelah timur api. Bentuknya menyerupai sumur dengan diameter 5 meter dan kedalaman sekitar 1,5 meter. Orang sekitar menyebutnya “Sendang Dudo”. Air di sendang tersebut kelihatannya mendidih disebabkan karena ada gas yang keluar dari dasar sumur. Sebagian masyarakat percaya bahwa air Sendang Dudo tersebut mengandung belerang sehingga dapat dipergunakan untuk menyembuhkan penyakit kulit.
Objek terakhir yang dikunjungi oleh Nimas dan Lia yaitu Batu Bobot. Batu tersebut mempunyai berat kurang lebih 20 kg. Tetapi batu tersebut mempunyai keanehan, yaitu ketika diangkat kadang beratnya bisa lebih dari 20 kg, kadang juga bisa kurang dari 20 kg. Karena keanehannya itulah banyak orang yang datang untuk minta berkah yaitu dengan cara meramal nasib dengan cara mengangkat batu tersebut. Saat ini batu tersebut kondisinya pecah karena pada jaman Belanda ada yang memaksakan diri untuk mengangkatnya lalu dijatuhkan begitu saja.  
Pada waktu Sultan Trenggono memerintah kasultanan Demak, Mrapen sangatlah mendapat perhatian karena pada saat itu Mrapen menjadi tempat pembuatan senjata Kasultanan. Sehingga untuk menjaga kelestarian benda-benda yang ada, maka ditugaskan seorang Demang yang bernama Ki Demang Singodirono untuk merawat dan menjaga peninggalan Sunan Kalijaga. Sekaligus diberikan sebagai tanah perdikan kepadanya. Kemudian perawatan Mrapen dilanjutkan kepada keturunannya. Sebelum dikelola oleh Pemerintah Provinsi objek wisata tersebut merupakan milik perorangan yang masih merupakan keturunan dari Ki Demang Singodirono. Orang tersebut bernama Nyi Parminah. Mulai tahun 2000 setelah Nyi Parminah meninggal yang mengelola dan merawat objek wisata Api Abadi Mrapen dan menjadi sebagai juru kunci diteruskan oleh ke tujuh anaknya secara bergantian. Salah satu anak dari Nyi Parminah adalah Bapak Rubiatno.
Sejak tahun 2012 objek wisata Api Abadi Mrapen sudah menjadi milik Pemeritah Provinsi dan saat ini sedang dalam tahap renovasi dibawah tanggung jawab Dispora (Dinas Pemuda dan Olahraga). Ada banyak pesta olahraga bertaraf nasional hingga internasional yang mengambil api untuk nyala obornya dari Mrapen. Sebut saja pesta olahraga internasional Ganefo I pada tahun 1963, kemudian Pekan Olahraga Nasional ( PON ) sejak PON X tahun 1981 hingga sekarang, serta obor untuk upacara Hari Raya Waisak di Candi Borobudur. Tak heran dalam waktu dekat akan diresmikan sebuah Museum Olahraga yang dibangun di belakang sebuah kolam air panas yang dipercaya menyembuhkan penyakit tersebut. Setelah puas berjalan-jalan dikawasan objek wisata Api Abadi Mrapen Nimas dan Lia pamit kepada Pak Rubianto dan berterimakasih banyak atas informasi yang telah diberikan. Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan dari Api Abadi Mrapen menuju ke Semarang.

Treatment
-       Adegan 1
[musik Adventure dan fx suara kendaraan bermotor yang berlalu-lalang di jalan]
Narator membacakan narasi untuk permulaan cerita, dimulai dari penokohan, lokasi, dan perjalanan yang akan mereka berdua lakukan. Dimulai dengan perjalanan Nimas dan kakaknya yang bernama Lia ketika hendak berlibur di Semarang. Saat berjalan tiba-tiba perjalanan mereka terhenti ketika melihat sebuah gapura tempat wisata Api abadi Mrapen
-       Adegan 2
[musik dan fx suara angin dan suasana pedesaan]
Nimas dan Lia berjalan menuju gapura yang mereka lihat. Setelah melewati gapura, sepanjang perjalanan ke tempat wisata mereka disuguhi dengan hamparan sawah yang membentang disepanjang jalan .
-       Adegan 3
[musik Adventure dan fx suara keramaian pengunjung]
Nimas dan kakaknya membeli tiket masuk wisata, dan bertemu dengan Pak Rubiatno. Setelah memperkenalkan diri, mereka berdua mulai menjelaskan tujuan mereka datang ke tempat wisata tersebut. Pak Rubiatno bersama mereka memulai perjalanan menuju tempat wisata tersebut.
-       Adegan 4
[musik jawa dan fx]
Dalam perjalanan mereka bertiga mendapat penjelasan mengenai sejarah objek wisata Api Abadi Mrapen tersebut.
-       Adegan 5
[musik jawa dan fx suara gamelan]
Saat sampai di objek wisata yang pertama, mereka ditunjukkan dengan peninggalan Sunan Kalijaga yang pertama di Mrapen yaitu Api Alam (Api Abadi) dan diberitahukan tentang keunikan-keunikan yang terdapat didalamnya.
-       Adegan 6
[musik jawa dan fx suara gamelan]
Perjalanan mereka berlanjut dengan mengunjungi objek wisata yang kedua yaitu Sebuah sendang yang diberi nama Sendang Dudo.
-       Adegan 7
[musik jawa dan fx suara gamelan]
Perjalanan selanjutnya, mereka ditunjukkan dengan situs peninggalan bersejarah dari Sunan Kalijaga berupa Batu Bobot yang kini sering didatangi orang-orang karena batu tersebut dipercara oleh orang-orang dapat meramal nasib. Untuk itulah batu tersebut sering didatangi oleh peziarah dari berbagai penjuru kota.
-                      Adegan 8
[musik adventure dan fx suara keramaian]
Di akhir perjalanan Nimas dan Lia diberitahukan mengenai peristiwa-peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di Objek Wisata Api Abadi Mrapen tersebut. Mulai dari upacara pengambilan api Ganefo I, api PON, sampai dengan pengambilan api untuk upacara Waisak di Candi Borobudur.
-                     Adegan 9
[musik dan fx suara keramaian pengunjung]
Sebelum berpamitan Nimas dan Lia diberitahukan tentang pengelolaan objek wisata mulai dari sejak pemerintahan Sultan Trenggono hingga sekarang. Kemudian setelah mendapatkan informasi dari Pak Rubiatno, Nimas dan Lia mengucapkan terima kasih kemudian petualangan di Mrapen diakhiri dengan berpamitan dengan Pak Rubiatno untuk kemudian melakukan perjalan liburan selanjutnya di kota Semarang.
-                     Adegan 10
[musik Adventure dan fx suara kendaraan bermotor dan angin yang semilir]
Nimas dan Lia pergi meninggalkan Mrapen dengan perasaan kagum dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Semarang menggunakan kendaraan roda dua.
-       Adegan 11
[musik dan fx]
Narator menyimpulkan dan menutup dengan menyampaikan pesan untuk tetap menjaga situs peninggalan sejarah dari Sunan Kalijaga.
 
Naskah Feature
Musik                  : ........................................... PEMBUKA ................................................
Narator                : Selamat pagi saudara pendengar, libur akhir pekan kini telah tiba, untuk melepas penat selama megikuti aktifitas perkuliahan sehari-hari. Nimas memutuskan untuk mengajak kakaknya yang bernama Lia untuk berlibur ke Semarang dan mengunjungi beberapa objek wisata yang ada di sana. Perjalanan dua orang kakak beradik ini berangkat dari kediamannya yang berada di wilayah Purwodadi Grobogan menuju Semarang. Ditengah-tengah perjalanan langkah mereka terhenti ketika melihat sebuah Objek Wisata Api Abadi Mrapen yang terletak di desa Manggarmas Kecamatan Godong kabupaten Grobogan. Karena mereka berdua merasa penasaran akan objek wisata tersebut, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mampir ke objek wisata tersebut karena mereka pernah mendengar bahwa di situ terdapat beberapa peninggalan-peninggalan bersejarah dari Sunan Kalijaga. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perjalanan mereka berdua mari kita simak percakapan berikut ini.
Musik                  : ...........................................ADVENTURE..................................................
Fx                        : Suara kendaraan bermotor yang berlalu lalang.  
Nimas              : Kak, kak lihat deh bukankan itu tempat wisata Api Abadi Mrapen yang konon katanya banyak terdapat peninggalan-peninggalan bersejarah dari Sunan Kalijaga kan? Mampir yuk....
Lia                       : Mana dek?? (Sambil menghentikan motornya).
Nimas                  : Itu kak di depan sana, lihat tuh tulisannya terpampang nyata. Gede banget.
Lia                       : Oh iya dek, yuk kita coba kesana.
Fx                        : Suara pedesaan saat memasuki objek wisata Mrapen
Nimas                  : Loh kak katanya Api Abadi mana apinya?
Lia                     : Iya ya dek, mana ya?? Kok nggak ada? Coba deh kita tanya sama bapak-bapak yang ada disana itu.
Nimas                  : Iya kak yuk... (berjalan sambil menggeret tangan kakaknya).
Lia                  : Permisi bapak, selamat siang, nama saya Lia dan ini adik saya Nimas, maksud kedatangan kami kesini kami ingin mengetahui tentang peninggalan-peninggalan sejarah dari Sunan Kalijaga yang salah satunya adalah Api Abadi Mrapen. Tapi sejauh ini kami kok belum menemukan api itu ya pak?
Pak Rubianto       : Begini mbak nama saya Rubianto kebetulan saya adalah salah satu juru kunci disini, kalo mbak mau saya akan memandu mbak Nimas dan mbak Lia untuk mengetahui lebih dalam mengenai objek wisata ini. Bagaimana?
Nimas                : Oh, kebetulan sekali pak, kalau boleh saya tahu sejarah awal mula terjadinya mrapen itu sendiri seperti apa sih pak?
Pak Rubianto       : Begini mbak, untuk sejarah lengkapnya, Mbak Nimas bisa baca sendiri di buku sejarah Mrapen yang kebetulan dijual disini, tapi kalau untuk sejarah singkatnya mengapa disebut Mrapen, itu karena dulunya tempat ini merupakan sebuah pedukuhan yang bernama Mrapen. Luasnya kurang lebih 8600 m2. Diatas tanah milik Nyonya Parminah. Letaknya di pinggir jalan raya Semarang-Purwodadi di desa Manggarmas Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Ditemukan pertama kali oleh Sunan Kalijaga ketika beliau bersama rombongan melakukan perjalanan dari Majapahit membawa benda-benda pusaka dari Kerajaan Majapahit dibawa ke Demak.
Lia                       : Ohhh, seperti itu, lalu selanjutnya bagaimana pak?
Pak Rubiatno      : Ketika rombongan merasa kelelahan mereka memutuskan untuk beristirahat disini. Mereka merasa kehausan dan kelaparan, namun karena bekal yang dibawa merupakan bahan makanan yang masih mentah, mereka kesulitan untuk memasakknya karena saat itu mereka berada di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk. Akhirnya Sunan Kalijaga dibantu dengan beberapa orang sambil berdo’a dan memohon kepada Allah SWT agar mendapatkan air dan api untuk memasak. Setelah selesai berdo’a Sunan Kalijaga berdiri sambil menancapkan tongkatnya ke tanah, ketika dicabut keluarlah api dari tanah tersebut. Kemudian beliau berjalan agak ketimur dan menancapkan kembali tongkatnya maka keluarlah api. Api dan air tersebut kemudian digunakan untuk memasak.Setelah beberapa saat Sunan Kalijaga melepas lelah, makan, dan minum, maka diputuskanlah untuk melanjutkan perjalanan. Pada saat akan berangkat salah satu pembawa benda kerajaan mengeluh bahwa barang bawaannya yang berupa “Umpak” terlalu berat. Akhirnya Sunan Kalijaga memerintahkan untuk meninggalkan umpak tersebut disini.
Nimas                  : Lalu untuk cerita tentang Dewi Rosowulan dan Empu Supo itu gimana ya Pak?
Pak Rubiatno     : Kalau cerita itu begini mbak kronologisnya, setelah melanjutkan perjalanan dari Mrapen ke Demak, selang beberapa hari kemudian Sunan Kalijaga teringat pada adiknya yang ikut pergi dari rumahnya untuk mencari Sunan Kalijaga yang waktu itu diusir oleh ayahnya. Lalu kemudian Sunan Kalijaga mengutus Empu Supo untuk mencari Dewi Rosowulan. Karena keberhasilannya mememukan Dewi Rosowulan akhirnya Empu Supo dinikahkan dengan Dewi Rosowulan namun dengan syarat Empu supo harus membuat keris terlebih dahulu yang harus dibuat di Mrapen ini. Kemudian karena keris yang dibuat Empu Supo dianggap ampuh maka sejak saat itu     Empu supo diberi tugas oleh Sultan Demak untuk membuat pusaka kerajaan dan Mrapen dijadikan tempat (pusat) pembuatan senjata kerajaan tersebut.
Lia                    : Biisakah bapak menunjukkan kepada kami objek apa saja yang ada di tempat wisata ini?
Pak Rubiatno       : Oh, tentu saja boleh mbak, mari ikuti saya.
Musik                  : .......................................... MUSIK JAWA ................................
Fx                        : Suara gamelan
Pak Rubiatno     : Nah saat ini kita sudah sampai di objek wisata yang pertama nih mbak, ini namanya Api Alam (Api Abadi). Dinamakan Api Abadi bukan berarti tidak pernah mati, tetapi api tersebut “diabadikan” sampai sekarang (dirawat).
Nimas                  : Tapi pak, kok apinya enggak kelihatan ya pak?
Pak Rubiatno     : Iya mbak, sebenarnya api ini dulunya besar namun sejak tahun 1992 apinya semakin kecil. Tapi kalo semisal diberi kertas atau tumpukan daun kering, nyala apinya akan kelihatan kok mbak.
Lia                       : Kira-kira yang menyebabkan nyala apinya kecil kenapa ya pak?
Pak Rubiatno    : Kemungkinan penyebab mengecilnya api salah satunya di karenakan tetutupnya pori-pori gas oleh lapisan tanah, sehingga gas kurang lancar. Akibatnya nyala api mengecil dan hampir tidak kelihatan.
Nimas                  : Ohhh jadi begitu ya pak.
Pak Rubiatno    : Iya mbak kurang lebih seperti itu, yuk kita lanjut jalan ke objek wisata yang selanjutnya. Nah, kita sudah sampai disini. Ini namanya Sendang Dudo, orang-orang biasa menyebutnya demikian. Air yang ada di sendang ini kelihatan mendidih disebabkan karena adanya gas yang keluar dari dasar sumur. Meskipun kelihatannya keruh, namun sebagian masyarakat percaya bahwa air Sendang Dudo ini mengandung belerang sehingga dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit kulit.
Lia                       : Jadi begitu ya pak, lalu bagunan tetutup yang ada disana itu apa ya pak?
Pak Rubiatno      : Oh, Itu adalah tempat untuk menyimpan watu bobot mbak, sebagian orang percaya bahwa batu tersebut dapat meramal nasib seseorang dengan cara mengangkat batu tersebut. Oleh karena itu batu ini sering didatangi pengunjung dari berbagai penjuru daerah untuk berziarah.
Nimas                  : Untuk waktu berziarah itu sendiri ada hari-hari khususnya nggak pak?
Pak Rubiatno       : Untuk ziarah, sebenarnya tidak ada waktu khusus, setiap hari banyak pengunjung yang berziarah, namun biasanya paling banyak itu, pengunjung datang pada hari Kamis Wage atau Jum’at Kliwon.
Lia                      : Begini pak untuk acara-acara atau peristiwa bersejarah yang sering dilaksanakan     disini itu apa saja ya pak?
Pak Rubiano      :  Kebetulan tempat ini sering digunakan untuk upacara pengambilan api Ganefo pada tahun 1963. Selain itu Mrapen juga sering digunakan untuk upacara pengambilan api PON dan pengambilan api untuk upacara Waisak di Candi Borobudur.
Nimas            : Pengelolaan objek wista ini itu sendiri seperti apa ya pak? Apakah dikelola pemerintah atau bagaimana?
Pak Rubiatno  : Jadi begini mbak, Pada waktu pemerintahan Sultan Trenggono, beliau memerintahkan seorang Demang yang Bernama Ki Demang Singodirono untuk menjaga kelestarian benda-benda yang ada di sini. Kemudian perawatan Mrapen dilanjutkan keturunannya sampai sekarang. Mulai tahun 2000 perawatan Mrapen di jalankan oleh ke tujuh anak dari Nyi Parminah yang juga merupakan salah satu keturunan dari Ki Demang Singodirono yang dikelola secara bergiliran, namun setelah di beli oleh Pemerintah Provinsi Jateng. Maka sejak saat itu dikeloa pemerintah dibawah pimpinan Dispora (Dinas Pemuda dan Olahraga) yang saat ini sedang dalam tahap renovasi. Bagaimana mbak sejauh ini sudah cukup jelas kah?
Lia                 : Iya pak jelas, kalau begitu kami pamit undur diri untuk melakukan perjalanan selanjutnya ya pak? Terima kasih banyak atas informasi yang bapak berikan. 
Pak Rubiatno       : Iya mbak sama-sama.
Musik                  : ..........................................SELINGAN.........................................................
Narator              : Demikian percakapan antara  dua orang kakak beradik yang bernama Nimas dan Lia dengan Bapak Rubiatno selaku juru kunci objek wisata Api Abadi Mrapen. Mereka membicarakan sejarah tentang Mrapen dan Mencoba mengungkap fenomena- fenomena yang terjadi di Objek Wisata tersebut, agar lebih diketahui oleh khalayak luas. Saudara pendengar, sekian informasi yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya dan sampai jumpa.
Musik                  : ..............................................PENUTUP.....................................................

                                                                                                                                                         

Share this:

JOIN CONVERSATION

2 comments: